Skip to main content

Hanya 1 kalimat, membuat seribu kemarahan

Assalamualaikum wr. wb.

Hai teman-teman, nama saya Fakhirah Aisyah Rahmah. Saya kelas VII SMP. Saya bersekolah di INISS (Intelligentsia Nurul Ilmi Secondary School). Sekolahku terletak di Jatimulya, Pondok Timur Indah, Bekasi Timur.

Hari ini, saya mau berbagi tentang kehidupan kelas 6 saya yang paling saya ingat. Saat itu, saya hanya menyebutkan sebuah kalimat, dimana semua teman saya berubah 180͒°.

Hope you enjoy!! 😊


Pada tanggal 6 April 2019, Saat itu saya sedang berada di sekolah untuk Enrichment (bisa dibilang, Enrichment itu seperti tanbahan materi untuk persiapan ujian akhir).

Di saat pelajaran Enrichment saya sudah selesai, di situ saya akan pulang bersama teman saya bernama Anita, yang kebetulan rumah saya dengannya satu arah.

"Anita, pulang yuk!" Aku menyoraki-nya tepat di belakangnya.

Anita saat itu hanya menoleh kebelakang di mana tempat saya berada. Tak berapa lama kemudian, Anita langsung memalingkan wajahnya kembali kepada teman-temannya, yang dimana saat itu saya agak sensitif terhadap keadaan.

Kayaknya, aku ada salah deh dengan Anita. Gumam saya dalam hati. Lalu, tanpa berpikir panjang, saya segera pulang tanpa memperdulikan Anita yang sedang berbicara kepada temannya.

Sesampainya di rumah, saya segera mengganti pakaian saya dan mengambil wudhu. Karena tepat saya pulang, Adzan Zhuhur berkumandang di sekitar rumah saya.

Setelah selesai, saya segera memegang hp saya dan membiarkan tubuh saya terlentang di atas kasur kamar saya.

Saya segera membuka Instagram saya yang kebetulan saya bukan anak "Gamers" tetapi anak "Sosmed".

Setelah membuka aplikasi tersebut, saya memulainya dengan membuka "InstaStory".

Setelah beberapa Instastory yang sudah saya buka, saya melihat InstaStory teman saya. Dia bernama Abel. Abel ini bisa dibilang adalah anak yang mudah sekali berbaur dengan orang-orang. Jadi, bisa dibilang dia anak "Gaul".

Saat melihat InstaStory-nya, saya agak terkejut dengan caption yang di ketik-nya. Saya agak lupa dia mengetik apa. Tetapi, yang paling saya ingat adalah, ia mengetik kata "Astapirulloh" yang seharusnya "Astaghfirullah".

Wah, ini udah gak bisa di biarin, aku harus kasih tahu! Gumam saya dalam hati. Hati saya udah siap menerima tanggapan buruk dari teman-teman saya. Tanpa berpikir panjang, saya pun segera men-share foto story teman saya, lalu men-share di InstaStory saya yang ber-caption, "Tolong jangan diuulangi lagi ya, gak baik ini."

Akhirnya, InstaSory saya sudah di Share, sehingga semua teman saya bisa melihatnya. Supaya dia sadar, saya juga tidak lupa men-tag nya dan menutupi tag-nya dengan sticker agar tidak terlihat. dan tidak menyinggung yang lain.

Tak berapa lama kemudian setelah InstaStory saya di share, saya mendapat sebuah DM atau bisa dibilang chat. Ternyata, DM tersebut dikirim oleh Abel untuk saya. Saya pun segera membuka isi pesan tersebut.

Setelah membuka-nya, saya mendapati pesan yang bertulisan "Kebiasaan" dari-nya. Di situ, saya agak merasa bingung dengan pesan yang Abel kirim. Maksud dari "Kebiasaan" apa ini?

"Kebiasaan apa?"
"Kalo ada salah, mending langsung ke orang-nya deh." 
"Lho, emang kenapa?"
"Kan kalo orang itu ada salah, kasih tahu ke orang-nya aja, gak usah share-share gitu.." Kata Abel.

Saya diam sejenak, dan mengolah kembali perkataan Abel. Apa yang dikatakan Abel benar juga, tidak sepantasnya saya men-share kesalahan teman saya sendiri. Tanpa berpikir panjang, saya pun segera menghapus InstaStory yang saya takut jika dapat menyinggung semua orang.

"Udah ku hapus kok"
"Lain kali, kalo ada salah langsung bilang ke orangnya, 4 mata aja. Gak usah di share-share gitu." 

Saya memang sudah merasa bersalah. Saya di ceramahi oleh-nya habis-habisan. Saya tidak membantah, karena saya tahu dia benar. Saya pun hanya melihat pesan yang dia kirim tanpa protes.

____Skip Skip_____

Setelah kejadian tersebut selesai, sebuah memori yang terjadi tadi siang tiba tiba terlintas di kepala saya. Dimana kejadian Anita yang mengabaikan saya di sekolah.

Saya pikir, hanya sedikit bercandaan membuat semua menjadi tenang kembali.

"Kamu gitu mulu, emang temen kamu gak ada yang marah napa?"
"Orang aku cuma nganggep kamu ama Husna temen aku." 
"Lha, jadi selama ini temen kamu yang di sekolah kamu anggep apa?" Kata Abel.

Setelah melihat pesan tersebut saya jadi merasa agak menyesal.

"Fira, kamu gak boleh begitu. Gak baik. Masa ama temen sendiri kek gitu. Selama 6 tahun, kamu gak anggep mereka temen napa?"
"Iya maaf, aku salah. Bel jangan kasih tahu ya." Kata saya. Setelah saya mengetik Kalimat itu, Abel tidak membalas chat-an ku lagi.

Akhirnya, aku mengabaikannya dan beralih ke InstaStory temanku yang tiada habisnya.

Saat saya melihat beberapa InstaStory, saya melihat salah satu InstaStory teman saya yang bernama Widya. InstaStory Widya saat ini berwarna hijau.

Tumben, biasanya Widya gak nge-share InstaStory ke "Close Friends". Kenapa ya? Gumam saya dalam hati.

Setelah saya membuka InstaStory tersebut............... Eh..., men-share sebuah InstaStory yang bertulis, "Eh kamu, selama ini kita temenan ama kamu selama 6 tahun buat apa? biarin aja, gak usah di ajakkin kalo kita mau pergi. Kta tinggalin aja."

Astaghfirullah, yang dia maksud itu saya, Ya Allah. Saya membuat kesalahan! Cemas saya. Dengan cepat-nya, saya segera membuka DM 6 grade NIBIIS Akhwat.

"Eh, Fira. kita temenan ama kamu selama 6 tahun, kamu nggak nganggep? sia-sia dong kita!" (Widya)
"Au nih, percuma Wid. Gak usahlah temenin dia!" (Abel)

(DM private aku dengan abel)
"Abel, kok kamu kasih tahu sih. Jangan kasih tahu!"
"Biarin, orang mereka temen aku. Serah aku dong." Kata Abel. Saya merasa benar-benar menyesal sekarang. Hanya sebuah kalimat saja, teman-teman bisa marah.

"Ya Allah, aku minta maaf!! aku salah. Aku gak sengaja!"(Fira)
"Nggak, mau dibilang berapa kali juga kamu gak ngudeng-ngudeng."(Abel)
"Iya iya, aku janji gak ngulangin lagi. Maaf ya!"(Fira)
"Jangan ulangin lagi lho, Fir." (Widya)
"Iya Wid, maaf. Aku gak bakalan ulangin lagi." (Fira)

(Chat-an ini saya singkat. Sebenarnya, peristiwa ini panjang sekali.)

Akhirnya, kejadian itu selesai. InstaStory Widya bertuliskan, "Dia minta maap gaes." Yang artinya, saya sudah minta maaf kepadanya.





Senin, 8 April 2019

Hari sabtu itu pun berlalu. Sekarang, saya akan pergi ke Stadion untuk mendapat nilai ujian praktek olahraga. Sebelum menuju Stadion tersebut, saya menuju sekolah NIBIIS. Dikhawatirkan saya akan menyasar di Stadion, orang tua saya meminta saya untuk pergi ke sekolah dan berangkat menggunakan transportasi yang sudah di sediakan oleh wali kelas dan orang tua murid.

Saya memulai dengan menyapa satu-satu teman saya. Tak berapa lama kemudian, saya melihat wajah Widya seperti biasa. Dia terlihat bahagia, dengan senyuman khas-nya membuat saya berpikir dia benar-benar orang yang baik.

"Widya, aku minta maaf ya soal kemarin." Kata saya
"Iya, aku maaf-in kok Fir." Kata Widya. Saya benar-benar tidak bisa percaya apa yang dia katakan. Widya dengan begitu khlas-nya meminta maaf kepada saya. Sedangkan saya sudah melakukan hal yang besar.

"Beneran wid?"
"Iya kok Fir." Kata Widya.

Sesudah meminta maaf kepada Widya. Langkah selanjutnya adalah meminta maaf kepada Abel. Saya masih berpikir, tidak semudah itu bisa meminta maaf padanya. Tetapi, saya masih percaya padanya, kalau dia adalah orang yang pemaaf.

Setelah sampai, kami pun segera baris di depan gerbang Stadion dengan wajah terkejut dan senang. Tak lupa saya menyapa teman-teman yang tepat di depan saya. Setelah menyapa, saya melihat ke-arah kiri saya, dan saya dapat melihat wajah Abel. Dia menatapku, tetapi tidak berapa lama setelah menatap saya, dia langsung memalingkan wajah-nya.

Abel bener-bener marah ya sama aku? Aku gak ada pilihan lagi. Cepat atau lambat, aku harus minta maaf kepadanya sebagai teman aku. Kata saya dalam hati.

Akhirnya, setelah berapa lama di gerbang Stadion, kami pun segera memasuki Stadion tersebut. Saya memutuskan untuk meminta maaf setelah saya ujian praktek. Dikhawatirkan, saya akan tidak fokus selama ujian.

Ujian praktek pertama adalah lari jarak jauh, kedua lari jarak dekat, terakhir lompat jauh.

Sebelum memulai lari jarak jauh, dibutuhkan stamina yang besar. Maka dari itu, kami memulainya dengan memutari stadion sekali dan setelah itu kami akan memulai lari jarak jauh untuk ujian praktek.

Selesai memutari stadion sebanyak satu kali, nafas semua teman-teman begitupula dengan saya terengah-engah. Rasa sakit saat berlari membuat tidak percaya diri saat ujian praktek.

Setelah itu, dimulai lah ujian praktek lari jarak jauh. Absen 1-5 dari kelas saya ada Anita, Carissa, Calista, saya, dan terakhir Gema. Saya mulai mempersiapkan diri untuk berlari sekencang mungkin.

"priiit!!!" peluit Mr.Sholeh berbunyi. Kami pun segera berlari sekencang mungkin. Ditengah jalan, aku tertinggal oleh teman-temanku. Tetapi, aku selalu memaksakan tubuhku untuk berlari sekuat tenaga sampai luar batas. Dan hasilnya, Anita yang pertama. Aku berada di urutan ke-4. Pegal kaki yang kami rasakan saat itu benar benar luar biasa, tidak ada yang bisa menahan rasa sakit ini.

Pada saat itu, tubuhku sedang tidak fit. Maka dari itu, rasa pegal dan rasa sakit di sebabkan oleh tubuh yang tidak fit, menyebabkan sakit ini tambah luar biasa. Aku mulai merebahkan tubuhku ke lapangan, sambil menatap atap stadion yang menjulang tinggi.

"Ayo, balik lagi ke tempat kalian." Ucap Mr.Syam, beliau adalah Guru saya saat kelas 6. Akhirnya, kami pun berjalan menuju tempat dimana teman-teman kami berkumpul.

Saat sampai di tempat teman-teman, aku bergumam hingga terdengar oleh seluruh teman, "Ah, coba aku lagi sehat, pasti aku kuat ampe di sana juga." 

Setelah lari jarak jauh, kami melakukan lari jarak dekat. Di sini, aku mengira sudah mengumpulkan semua energi. Tetapi, luar dugaan. Ternyata tubuh yang sedang tidak fit dibutuhkan istirahat yang cukup. Pada akhirnya, aku menahan diri untuk mengeluarkan semua tenaga dan meraih urutan 3 dari 5 orang.

-----skip-----

Sekarang waktunya untuk lompat jauh, tenaga ku masih kurang meyakinkan dikarenakan tenaga ku sudah di habiskan di ujian praktek lari jauh dan dekat.

Setelah selesai ujian praktek, aku memberanikan diri untuk menemui Abel.

Lalu, aku mulai berbicara,"Abel, maaf ya soal kemarin. Aku cuma bercanda."

"Enggak Fira. kamu minta maaf juga bakalan di ulangi lagi." Kesal Abel.

"Tapi maaf ya, bel. Aku janji gak ngulangin lagi." Setelah aku berkata seperti itu, Abel segera memalingkan wajahnya dan beralih ke teman-temannya. Soal di terima minta maaf-nya atau tidak, yang penting saya sudah meminta maaf. Sekarang tinggal urusannya dengan Allah SWT.

Akhirnya, kamipun pulang dengan tenaga yang sudah terkuras di sana.

Sekarang, aku sudah berada di sekolah tercinta. Saya sengaja tidak langsung pulang, karena tenaga yang sudah dikuras butuh waktu lama untuk kembali pulih. Ternyata, tidak hanya saya yang berada di sekolah, disana ada Anita, Tazkia, Fina, Nadia, Aliya, Calista, dan Naura. Mereka sedang berbincang, kalau tidak salah, mereka sedang membicarakan untuk bermain di rumah Calista.

Setelah sudah agak lama mereka berbincang, "Eh, kita ke rumah Fira yuk!" Kata Anita. Aku yang mendengar sudah terkejut, kenapa tiba-tiba Anita mengusulkan namaku. Tetapi, semua teman teman sudah setuju. Dikarenakan, rumahku yang terletak lumayan dekat, terdapat wifi, dan tidak lupa sebuah laptop untuk menonton sebuah movie. Di seberang rumahku juga terdapat warung. Tempat yang sangat strategis bukan? Akhirnya, kami segerombolan gadis kelas 6 datang menuju rumahku.

Sesampainya di rumah, aku menyiapkan laptop untuk menonton sebuah movie. Movie yang mereka inginkan bertentangan dengan movie yang saya mau. Mereka mengusulkan untuk menonton sebuah movie hororr. Dikarenakan saya orangnya penakut, saya memutuskan untuk bermain ponsel saya selama movie yang mereka mau berputar.

Tidak lama kemudian, movie itu pun di putar. Saya pun segera membuka ponsel saya. Setelah membuka beberapa aplikasi sosmed, saya mendapat notif dari "6 grade NIBIIS".

Ada apa ini rame-rame? Gumam saya dalam hati. Setelah saya membuka notif tersebut, isinya benar-benar tidak saya duga. Saya mendapat sebuah notif berisi tentang caci maki-an. Caci maki-an ini secara terang-terangan karena mengarahkan kepada saya.

"Eh, gak usah temenin tuh, si Fira"
"Iya ih, udah sombong, mentang mentang pinter"
"Bukan temen aku itu mah"

Astaghfirullah, udah nyebar ya?? Gelisah saya dalam hati. Selain notif dari  6 grade NIBIIS, saya mendapat sebuah notif dari Gema. Saya pun segera membuka notif tersebut. *Chat ini saya ambil karena ada bukti

"Apa kmu"
"yeee"
"Sosok kaga merasa deketin ikhwan" (laki-laki)
"PLS layah"

Setelah melihat pesan ini, saya mulai merasa seperti ada air mata yang mulai menitik di pipi saya.

"apaan sih?" Saya jawab begitu

"Jutek banget sih org"
"Hi aku Vita"
"Aku udh liat semua"
"Jutek banget sih jadi org"

Di chat ini terdapat nama Vita. Jadi, Vita ini dikenal orang yang baik hati, ramah, dan gak pernah marah lho. Palingan marah cuma bercanda. Dan, apa yang saya lihat ini, sunggu tidak bisa dipercaya.

"Boong ah" Jawab saya begitu.

"Giliran ikhwan caperlah, baik lah"
"Kicepkan"
"kicep"
"Kan" Jawab si Gema. Saya benar-benar tidak percaya. Gema, yang sudah baik kepada saya selama ujian praktek, dia sampai menawarkan saya setelah pulang pergi untuk membeli buku.

"Gak, aku gk kicep"
"Berprasangka buruk aja sama org" Setelah mengetik chat tersebut, seketika saya menangis tersedu-sedu.

"Fir, kamu kenapa?" Tanya Anita yang mendengar suara tangisan saya.

"Iya Fir, kamu kenapa?" Tanya teman-teman yang lainnya.

"Eh, Fira nangis woi." Jawab Fina. Setelah Fina bilang seperti itu, semua teman-temanku segera menyalakan lampu dan mematikan movie-nya.

"Fir, kamu kenapa? kok ampe nangis?" Tanya Anita lagi.

"Anita... m-maafin aku, aku pernah bilang gak nganggep kalian teman. Maaf!" Ucap saya dengan air mata yang deras. Anita pun segera membaca notif baru yang ada di "6 grade NIBIIS" Sudah banyak sekali notif yang tertulis di sana.

*Pesan ini saya ambil yang paling membuat saya ingin berubah. Jadi, masih ada banyak lagi notif. Dan juga, saya tidak mau menulis nama oran tersebut dikarenakan banyak yang membajak akun ini.

"Maaf ya teman-teman kalo aku ada salah" Fira
"Iya, ga aku maafin :))"
"Jahat" Fira
"Kamu lebih jahat"
"Buat apa dimaafin kalo ujung ujungnya tetap kayak gitu?"
"Tolong jangan datang pas ada maunya"
"ini Anita, eh kalian kalo ngomong yang bener dong" Anita
"21 lawan 2, mau apa kalian?" Kalimat ini saya ketik dikarenakan saya mulai mengingat sesuatu. Saya mendapat sebuah quotes yang mengatakan, "Kenapa saya harus takut dengan banyaknya ancaman orang? sedangkan saya adalah hamba dari Allah yang memiliki segalanya?"

Masih panjang sekali cerita ini begitu pula dengan chat tersebut. Setelah sudah agak lama Anita dan teman-teman yang berada di rumahku membalas caci-makian, tak lama kemudian mereka pun berhenti. Calista dan Nadia dijemput oleh orang tuanya, sedangkan Fina dan Naura berjalan kaki menuju rumah mereka.

Kini, tersisa Anita, Aliya, dan Tazkia. Saya mulai merasa tenang sekarang berkat teman-teman.

Ya Allah, andai saja waktu bisa di ulang. Pasti aku nggak bakalan begini. Apa yang harus kulakukan? Ucap saya dalam hati dan saya mulai menghapus air mata saya.

"Eh Fira, ada notif dari Gema." Kata Anita dan Aliya.

"Eh, Gema? dia jawab apa?" Tanya Tazkia dan kami berdua segera  melihat isi chat tersebut.

"Fir ini sekarang Gema. Itu kukira prank, aku suka prank orang makanya itu." Gema. Jika Gema sudah bilang seperti itu, saya kan juga gak bisa apa-apa lagi. Saya percaya sama Gema ini.

"iya kok gpp. Aku juga udah maafin kalian dari awal." Fira

Akhirnya, Gema pun menceritakan semuanya. Jadi begini, semua teman-temanku tertawa saat aku membuat sebuah rekaman suara berisi tentang permintaan maaf saya. Tetapi, Gema tertawa dengan terpaksa dan berpikir "Lho, kok mereka kek gitu, mereka serius mau Bully Fira. Wah, aku harus kasih tahu Fira nih!" Dan di beritahukan lah semua kejadian.

Di saat itu, saya sudah merasa lega. Karena, ada orang yang membuat saya sadar, jika waktu memang tidak bisa di ulang. Jadi saya terima apa adanya dan berdoa kepada Allah untuk meminta hidayah.


9 April, 2019

Hari ini, adalah tes sambung ayat. Saya berusaha menghafal Juz 30 untuk memantapkan makhraj-nya. Karena, tes ini tidak semudah sebelumnya. Sesuai dugaan saya, saya di abaikan 1000 kata.Tidak ada satupun orang yang mau berbicara padaku, dengan pengecualian Anita dan Aliya. Bagaimana dengan yang lainnya? mereka tidak mau ikut campur urusanku. Ya, saya juga tidak bisa memaksanya. Ini adalah urusan saya. Saya yang harus menyelesaikannya.

"Widya, aku minta maaf ya soal kemarin." Ucapku kepada Widya secara sembunyi-sembunyi.

"....?... ah, iya kok Fir, gpp." Jawab Widya.

"Eh, beneran wid?" Tanya saya dengan tidak percaya.

"Iya Fir. Tenang aja." Dan di saat itulah, saya tidak perlu lagi khawatir tentang caci maki-an mereka dan memulai ujian dengan tenang.

Setelah selesai, saya melihat Husna yang memanggil saya.

"Kenapa Husna?"

"Fir, aku denger Safa, Keisha, ama Widya ngomongin kamu." Kata Husna.

"...... Iya, aku udah tahu. Gpp kok. :")" Jawabku, setelah selesai berbincang, aku mulai membaca surah Ar-Rahman. Dan tak lama kemudian, air mata mulai menitik di atas pipiku.

Ya Allah, jika ini ujian, tunjukkanlah jalan yang benar kepada saya ya Allah. 

Di siang itulah saya menangis dan benar-benar tidak ada yang peduli. Saat saya menangis, saya mendapatkan informasi dari teman saya bernama Tazkia saat ini. Dia mengatakan, saat saya menangis salah satu teman saya membicarakan tentang saya.

"Fira nangisan mulu, kayaknya hidupnya banyak banget masalah."
"Cengeng banget." (Ini sesuai informasi yang saya dapatkan. Saat itu, saya benar-benar tidak bisa mendengar perkataan orang lain)

Setelah selesai membersihkan muka, saya mulai menuju kelas dan membereskan tas saya.


10 April, 2019

Saya berangkat kembali dengan beban hidup di pundak saya. Beban yang tak terlihat, tetapi sangat berat untuk diangkat. Tetapi, saya memutuskan untuk tidak memberitahukan tentang perasaan saya saat ini.

Hari ini, kelas 6 masih mengadakan ujian praktek olahraga. Untuk hari ini, ujian prakteknya adalah jungkir balik ke depan, jungkir balik ke belakang, kayang, dll (masih banyak banget deh).

Ujian praktek olahraga diadakan jam siang setelah makan siang. Sebelum makan siang, kami sekelas sholat Zhuhur ber jamaah. Setelah selesai, saya membereskan mukena. Tetapi, setelah saya membereskan mukena, saya melihat Gema yang sedang duduk di kursinya. Saya melihat Gema, dia terlihat sedih. Lalu, saya segera menghampirinya.

"Kamu kenapa gem? gak makan?" Saya sudah tanya berkali-kali, kemudian Gema menulis di bukunya.

"Aku mau dibilang munafik ama temen-temen." (kurang lebih seperti itu)

"Munafik gimana?"

"Kan, yang pas kamu di bully Fir, kukira kan prank. Jadi aku ikut-ikutan. Pas itu, aku bilang ke mereka kalo kukira prank, terus aku gak mau ikut-ikutan lagi. Terus, aku dibilang Munafik gegara mereka kira aku dukung kamu."

Ya Allah, padahal Gema gak salah apa-apa. Ya Allah, kan jadinya teman aku ikut terlibat.

"Sabar Gem, aku juga gitu kok. Lebih baik, kamu gak usah dendam. Mereka sebenarnya baik kok." Kataku.

"Makasih Fir, aku juga gak tega yang kemaren."

"Udah kok, gpp. Maaf ya kalo aku ada salah." Seketika, air mata saya jatuh. Saat air mata saya jatuh, Carissa tiba-tiba datang.

"Carissa aku minta maaf ya pas tadi." Kata Gema, aku tidak mengerti apa yang di maksudnya. Tapi, sepertinya, itu urusan mereka.

"Ya Gem, aku juga mau minta maaf." Kata Carissa. Akhirnya, mereka pun saling memaafkan.

Kini, ujian praktek olahraga pun selesai. Saya menuju kamar mandi untuk berganti baju. Saya mendahulukan Gema untuk berganti baju. Tetapi, saya baru ingat. Setelah ini, saya ingin mengulang Juz 27. Lalu, saya mengganti baju di depan kamar mandi yang kebetulan kamar mandi akhwat tertutup dinding.

"Fir, emang boleh ganti baju di situ." Kata seseorang. Ternyata, dia adalah Tazkia. Saya mulai berpikir, sebenarnya Tazkia ada benarnya. Tapi saya hanya mengabaikannya saja. Ya, karena sudah terlanjur untuk berganti pakaian.

Setelah itu, saya mulai membaca al-quran. Setelah membaca Ta'audz dan Basmalah, saya mendengar suara seseorang.

"Eh, kan gak boleh ganti baju di luar kamar mandi kan?" Sudah ketahuan jika itu di sengaja olehnya (Saya tidak mau bilang orang tersebut). Setelah itu, saya mulai ingin menangis. Tangan saya bergemetar, tubuh saya berkeringat dingin. Entah berapa kg beban yang saya angkat.

Saya mulai menahan tangisan itu dengan membaca Ar-Rahman. Tetapi, tidak sesuai dugaan, saya mulai menangis tersedu-sedu ketika membaca Ar-Rahman.

Ya Allah, kuatkanlah hati saya jika ini ujian.

"Eh, Fira kamu kenapa?" Tanya seorang salah satu teman saya. Dia adalah Abel. Saya sempat tidak percaya, dan pada akhirnya saya mulai melihat wajahnya dan benar.

"Eh, Fira nangis woy. Kenapa Fir?" Tanya Abel lagi.

"Ah, nggak kok Bel, aku baca Ar-Rahman ampe terharu." Setelah saya bilang seperti itu, semua teman-teman yang pernah mem-bully saya datang.

"Udah Fir, jelasin aja." Setelah itu, saya menjelaskan semuanya.

"Oh, kita udah maafin kamu kok Fir, dari kemarin." Kata teman-teman.

"Beneran? maaf ya aku yang salah."

"Nggak kok Fir, gpp. Kita juga salah." Jawab teman-teman. Setelah itu, Tazkia di panggil untuk meminta maaf kepada saya dan juga tes Juz 30.

"Fir, maaf ya." Kata Tazkia.

"Iya" Jawab saya pelan. Setelah itu, beban beban saya benar benar ringan setelah teman-teman meminta maaf pada saya.



*Ini bukti :")

Oke, teman-teman, jadi ini akhir kisah saat saya Di bully. Saya benar-benar tidak menyangka, tanpa mereka Blog ini takkan selesai. Jujur, saya mengetik cerita ini, ada aja keinginan ingin menangis dan ingin bertemu mereka lagi. Jadi pesan saya, "Hati-hati dengan kalimat yang kalian ucapkan. Tidak semua orang bisa menerima perkataan kalian." 

Cerita ini saya ambil bukan karena terpaksa, tetapi saya ingin berbagi kepada kalian bahwa tidak mudah untuk mencari teman dan untuk mengatasi caci maki-an. 

Saat saya di bully, saya mengingat perkataan ibu saya "Carilah 70 alasan atau lebih supaya kalian tidak berprasangka buruk." Ini kata kata yang selalu diingat.

Dan satu lagi dari saya, "Waktu terus berjalan, tidak bisa diuulangi. pikir 2 kali, jangan sekali, untuk tidak menyesal kemudian.

Sekian dari saya sebagai murid NIBIIS dan INISS, saya berterima kasih pada teman-teman alumni NIBIIS dan guru-guru saya, serta orang tua saya yang sudah mengarahkan saya ke jalan yang benar. Saya mengucapkan maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang saya perbuat. Dan semoga bermanfaat bagi kita semua. 


Terima kasih, WASSALAMU'ALAIKUM WR.WB.



Comments

  1. Barakallahu nak telah selesai blog pertamanya.
    Hati-hati dalam memilih teman, pilihlah yang bersyafa'at.
    Lanjutkan menulisnya di media ini.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Anak Bunda sudah besar ... sudah bisa menghadapai masalah dengan tegar, jangan pernah menghindari masalah tp hadapilah agar fira bisa menjadi pribadi yang kuat . Bunda bangga sama fira yang bisa melewati setiap tetes air mata dengan tenang. Mengadulah pada ALLAH dan minta pertolongan Nya agar bisa melewati setiap cobaan demi cobaan dengan kuat. Yakin lah pada pertolongan ALLAH di setiap nafas kita asalkan kita jujur pada diri kita sendiri, mengakui kesalahan kita dan berusaha memperbaiki nya. Ayah dan Bunda akan selalu ada untuk fira dan akan selalu support fira.. Semangat ya nak... Fightingg !!! ^_^

    ReplyDelete
  4. Hmmmm......Gak Taulah mau komen apa pikirin aja sendiri

    ReplyDelete

Post a Comment